Keamanan Data dan Informasi
Keamanan Data dan Informasi
Di era teknologi yang sudah berkembang penggunaan internet dan smartphone sudah semakin meluas. Dengan adanya internet dan smartphone dapat memudahkan kita untuk berkomunikasi dan mengakses informasi. Tetapi dengan adanya internet data pribadi kita dapat tersebar. Karena data pribadi kita yang tersimpan di aplikasi yang sering kita gunakan seperti media sosial, dan e-commerce. Kebocoran data yang terjadi dapat berkembang menjadi kejahatan di dunia maya maupun di dunia nyata.
Di bidang informatika data disimpan dalam bentuk yang dapat diproses oleh komputer, seperti representasi digital dari teks, angka, gambar, grafis, suara (audio), atau video. Data dan informasi adalah dua kata yang berbeda. Informasi memiliki sifat yang akurat, tepat waktu, kontekstual, relevan, bertujuan, spesifik, dan dapat dikelola. Data dapat direkam, disimpan, dan ditampilkan. Istilah keamanan data dan informasi pada bidang informatika berkaitan dengan keamanan data dan informasi pada ponsel pintar, PC, dan gawai lainnya.
Saat ini jika, kita chatting menggunakan aplikasi di ponsel pintar, aplikasi tersebut mungkin memiliki celah keamanan. Keamanan informasi terkait dengan pengembangan artefak komputasional yang aman, dari proses pengembangannya dimulai dari analisis kebutuhan, perancangan, pengkodean, pengujian, pengoperasian, dan perbaikannya jika ada kesalahan (bug). Bug ini dapat menjadi celah keamanan informasi. Pada beberapa tahun ini, muncul istilah cybersecurity, cybersecurity mencakup beberapa bidang ilmu yang berkaitan karena berhubungan dengan aspek manusia, hukum, kebijakan, etika, dan bahkan hubungan antarnegara. Pada zaman teknologi yang sudah berkembang ini semakin banyak orang yang menggunakan komputer dan internet.
Istilah hacking/peretasan sekarang dipahami sebagai tindakan tidak bertanggung jawab dan merusak yang dilakukan oleh penjahat atau yang disebut peretas. Evolusi dari peretasan adalah Era 1 — tahun-tahun awal (1960-an dan 1970-an), saat peretasan adalah istilah yang positif. Era 2 — dari akhir 1970-an hingga akhir 1990-an, ketika peretasan memiliki arti yang lebih negatif. Era 3 — dari akhir 1990-an hingga saat ini, dengan pertumbuhan Web, e-commerce, dan smartphone batas antara positif dan negatif menjadi kabur.
Untuk melakukan peretasan, peretas menggunakan tools/perkakas yang beragam dan berbagai jenis malware (malicious software) seperti virus, worm, trojan horse, rekayasa sosial, phising, pharming, spyware, ransomware, backdoor, dan botnet. Botnet dikendalikan oleh peretas dari server pusat untuk tugas-tugas seperti mengirim spam, melakukan penipuan iklan online, atau serangan Denial of Service (DoS) tanpa sepengetahuan pemilik komputer. Kerawanan terbagi menjadi 3 yaitu, kerawanan pada sistem operasi, kerawanan pada internet, dan, kerawanan pada sifat manusia, serta teknologi Internet of Things.


Comments
Post a Comment